Ima Marsczha: manusia penuh ironi. Ketika hobi dan mimpinya bertemu teknologi, maka lahirlah blog ini. Blog ini telah menjadi tempatnya menuangkan penat dan semoga akan selalu memuaskan hatinya yang keras.
Kamis, 08 Oktober 2009
Writing 101: Knowing What to Write
Minggu, 27 September 2009
like a zombie
Padahal udah nggak perlu terbagi antara fiksi dan skripsi. Tapi, dalam banyak hal, gue masih merasa banyak waktu yang hilang begitu saja dalam hidup gue. Entah ke mana.
Dalam banyak hari, gue jadi bangun pagi. Padahal malamnya masih harus berperang dengan insomnia. Bangun pagi juga bukan pagi yang produktif. Kalo dipikir-pikir, yang gue kerjain cuma minum susu, ngompres luka, makan pagi, minum obat terus mandi. Tahu-tahu udah siang.
Selera makan juga memudar. Nggak gampang kenyang, tapi juga nggak lapar. Hmm... Rasanya hidup nggak berarti.
Rabu, 26 Agustus 2009
Writing 101: How To Be A Writer
Hi there!
Sejak TDLC diterbitkan, banyak teman lama yang mengirimi gue email dan ngajakin chat kalo gue lagi online. Bahkan, ada yang SMS. Heran juga! Ternyata banyak yang tahu nomer HP gue. Hehehe... Email, chat, dan SMS yang berdatangan, tentunya, mengucapkan selamat. Banyak juga yang minta dikirimin gratisan. Tapi, yang menarik, ada beberapa yang malah curhat.
Gue sampai sempat menyesal. Gue kurang peka terhadap keinginan dan cita-cita teman-teman gue. Baru sekarang, setelah bertahun-tahun temenan, gue tahu ada beberapa temen yang pengen jadi penulis juga. Email, chat, dan SMS dari mereka, selain ucapan selamat, juga berisi pertanyaan-pertanyaan soal jadi penulis. Mengulang-ulang hal yang sama, akhirnya, membuat gue memutuskan untuk menulis blog ini.
Writing 101: How To Be A Writer
Gimana sih caranya jadi penulis?
Begitulah pertanyaan yang paling sering ditanyakan kepada gue. Gue menjawab dengan jujur: Ya, menulis. Yang gue heran, mereka semua tertawa.
Kalau mau jadi penulis, ya harus menulis, kan?
Menurut gue, salah satu faktor penting yang membantu gue sampai bisa jadi penulis adalah tugas-tugas mengarang semasa SD dan SMP. Dulu, guru-guru bahasa selalu ngasih tugas mengarang setiap habis liburan. “Buatlah karangan tentang liburan kalian kemarin!” katanya. Gue benci banget tugas itu. Soalnya, ortu gue jarang ngajakin jalan-jalan. Kalau liburan, paling gue nginep di rumah kakek-nenek gue: bangun siang dan main seharian. Sama sekali bukan liburan yang menarik untuk dijadikan bahan tulisan. Karena gue orangnya nggak mau kalah, gue merasa tertantang untuk membuat bahan yang nggak menarik itu, setidaknya jadi tulisan yang enak dibaca. Di situlah, gue mulai belajar.
Waktu SD, gue juga menulis buku harian setiap hari. Isinya jangan ditanya. Hampir setiap lembarnya berisi kalimat-kalimat norak seperti “Hari ini, dia duduk di sebelahku” atau “Udah 2 hari dia nggak masuk sekolah. Kenapa, ya?” Bikin merinding. Tapi, gue heran melihat gaya tulisan gue di waktu SD sudah jauh lebih baik daripada gaya tulisan adik bungsu gue.
Adik bungsu gue sekarang kelas 2 SMP, tapi tata bahasanya berantakan. Dia belum bisa meletakkan titik dan koma dengan benar. Dia juga belum bisa membedakan mana yang awalan dan mana yang kata sambung. Usut punya usut, adik gue nggak pernah dapet tugas mengarang dari sekolah. Betapa memprihatinkan pendidikan pada masa ini, ya?
Well, practice makes perfect.
Cara lain yang juga penting untuk melatih kemampuan menulis adalah banyak-banyak membaca. Gue sendiri memang hobi banget membaca. Komik, novel, buku-buku psikologi, bahkan kamus dan ensiklopedia pun gue baca. Gue jarang baca koran karena halamannya lebar dan susah dipegang.
Membaca itu penting karena bisa menambah pengetahuan. Menurut gue, pengetahuan itu penting untuk jadi penulis. Misalnya, lo mau menulis fiksi romantis tentang seorang pemain basket. Ya, lo harus tahu hal-hal mendasar tentang basket. Jumlah pemainnya, ukuran lapangannya, peraturan-peraturan dasarnya. Kalau gue baca novel-novel lain, hal-hal sepele kayak gini biasanya jarang ditulis, terutama kalau si penulis pakai first person point of view. Tapi, gue prefer limited third person point of view dan hal-hal kecil kayak gini bisa membantu banyak untuk membangun suasana. Trust me!
Selain menambah pengetahuan sepele, apa yang lo baca juga bisa jadi contoh yang bagus untuk menulis. Gaya bahasa, misalnya. Saran gue, sih, bacalah buku yang buanyaaaak! Bukan dari penulis favorit lo aja, tapi juga penulis-penulis yang namanya sama sekali nggak lo kenal. Lo akan kaget menemukan begitu banyak hal yang bisa lo pelajari dari buku-buku yang ditulis orang lain.
So many things to say, so little time... Tunggu Writing 101 berikutnya, ya?
Kamis, 20 Agustus 2009
Senin, 25 Mei 2009
anak durhaka
Gue amat sangat sedih dan menyesal sekali. Tapi, ya sudahlah... Itu sudah berlalu. Gue udah say sorry dan akan menebusnya dengan membantunya bikin laporan PPI.
Rabu, 06 Mei 2009
Rabu, 29 April 2009
bashing in violet
Hari ini gue ulang tahun. Dan, ini adalah kedua kalinya gue menjalani hari ulang tahun dalam keadaan flu parah. Tahun kemarin juga begitu. Kepala pusing, hidung mampet, mata berair terus menerus, dan suhu badan meningkat. Gejala yang persis sama. Tapi, tentunya, ada yang berbeda.
Gue termasuk orang yang sangat jarang sakit. Masa sekolah dulu gue sakit setahun dua kali, maksimal. Bahkan ketika demam tinggi, gue nggak pernah absen dari sekolah, kecuali satu hari menjelang Natal setiap tahunnya. Itu adalah hari dimana gue diajak nyokap belanja pernak-pernik Natal. Tawaran yang sangat sulit untuk ditolak.
Beberapa tahun belakangan, gue jadi sering sakit. Penyakit yang gue derita pun jadi semakin beragam. Tahun ini, misalnya. Tahun kemarin gue masih bisa ketawa-ketiwi sama nyokap di mobil, meskipun kepala pusing. Tahun ini gue bahkan kesulitan berjalan lurus. Tahun kemarin hidung gue mampet cuma kalo bangun tidur. Tahun ini hidung gue mampet setiap saat. Bahkan, sempat berdarah segala. Tahun lalu mata gue berair doang. Tahun ini air mata gue mengalir terus sampai-sampai adek gue mengira gue nangis.
Kalo dipikir-pikir, sih, kondisi gue sekarang, bukan gara-gara penyakit yang berkembang. Bukan juga gara-gara usia gue yang bertambah. Bukan karena sistem imun gue melemah. Gue sakit sampai kayak gini karena so many things to do, so little time.
Skripsi gue terancam mandek lagi. Yang berarti, gue terancam DO. Damn! Di waktu yang bersamaan, gue harus mengurus dekorasi buat prom-nya adek gue. My mother’s idea. Gue suka kerjaan-kerjaan kayak gitu, sebenernya. Tapi, kayaknya waktunya lagi nggak tepat aja. Belum lagi, segala urusan pribadi yang harus gue kerjain. Cuci dan setrika baju, masak, dan nyari duit. Gue nggak punya waktu untuk mikirin kesehatan. Sampai, akhirnya, kesehatan gue menjerit-jerit minta perhatian. Well, she got my full attention now.