Minggu, 15 November 2009

To my bestfriend, the one with the Y chromosome

Do you know?
There are too many questions swimming around my head...
I do know the answers, but not how to answer without breaking someone's heart. It's complicated.
I know that I'm scared and, as I write this, is walking a step closer to desperation. Just please, don't worry for I know the cure to my sickness. I just can't find it. Not yet. No matter how hard I try, it keep walking away...

Can you please come?
...and bring it for me.

Jumat, 13 November 2009

My love for Kelly...


Menulis mengingatkan gue pada Kelly Purwanto, he whose name is written inside my first published novel. Gue harus mengaku bahwa rasa bersalah atas pengkhianatan gue pada Garuda Flexi Bandung untuk beralih ke Pelita Jaya Esia menuntun gue menulis blog ini.

Gue bukan penggemar basket. Buat gue, bahkan, olahraga hanya menarik kalau gue duduk di bangku penonton. Itupun, gue tetep nggak suka basket. Not until I saw him. Kelly Purwanto membuat gue jatuh cinta pada basket.

Semua berawal di Sabtu sore yang membosankan. Nggak ada acara bagus di tivi. Adek gue, yang penggemar basket, akhirnya ngajak nonton IBL. Di tivi, tentunya. Gue mempersiapkan diri untuk menjadi bosan dan jatuh tertidur.

Tapi gue nggak butuh waktu lama untuk berubah pikiran. Satu sosok di lapangan membuat mata gue terpaku. Dia begitu berbeda. Dibandingkan dengan yang lain, dia begitu kecil dan pendek, dan hitam. Tapi, di waktu bersamaan, dia begitu menyita perhatian gue. Dia bergerak bagai kilat. One moment here, tau-tau udah di ujung lain lapangan.

And, of course, I googled him. Dan ternyata dia hebat.

Kelly Purwanto bukan hanya membuat gue jatuh cinta pada basket.
Kelly Purwanto menginspirasi gue dalam banyak hal.
Kelly Purwanto membuat mata gue terbuka waktu kantuk melanda di saat-saat yang nggak tepat.

Maka, para penggemar Garuda Flexy Bandung, maafkanlah pengkhianatan gue... Kesetiaan gue di dunia basket sebenar-benarnya hanyalah untuk Kelly...

Selasa, 10 November 2009

Writing 101: What To Write?

Hello!

Sudah banyak membaca dan banyak menulis? Don’t stop!
Setelah ngaku “Gue juga pengen jadi penulis,” banyak yang bertanya, “Paling oke, nulis apa, ya?” Well, menurut gue, you can write about everything.

Kalo untuk latihan, gue, sih, menyarankan: menulislah dari hal-hal kecil. Update status, misalnya. Kalau punya BB, handphone dengan GPRS, atau akses internet di rumah, berarti lo punya wadah untuk banyak-banyak latihan. Gunakan! Usahakan jangan menulis status yang standar. Tapi, coba dengan bahasa yang menunjang karir menulis lo. Namanya juga latihan.

Kalo mau lebih banyak latihan, tulislah blog! Kan, gratis. Jadi, nggak akan merugikan secara finansial. Kalo nggak mau nulis tentang keseharian, tulislah tentang hal-hal yang menarik buat kalian. Atau, tentang hal-hal yang lagi banyak diomongin orang. Tapi, kalo kalian bercita-cita jadi penulis fiksi, tentunya, akan jauh lebih baik kalo kalian menulis cerita fiksi.

Cerita fiksi nggak harus panjang dan bertele-tele. Cerita pendek tentang seorang cewek yang kelaparan di tengah malam, kehabisan LPG ketika berencana bikin mi instan, baru ingat kalo nggak punya uang cash ketika sudah siap dial 14045, dan akhirnya harus puas dengan dua lembar roti tawar juga bisa dikategorikan cerita fiksi, lho! Apapun, asalkan nggak terjadi dalam kehidupan nyata si penulis, adalah fiksi.
Berdasarkan pengalaman, berbagai hal bisa jadi ide yang bagus untuk ditulis. Yang lebih penting peranannya adalah pengembangan cerita dari si penulis. Misalnya kalian melihat ada kucing hitam di pinggir jalan, mengingatkan pada rumor bahwa kucing hitam bawa sial. Kembangkanlah jadi: gimana kalau ada kucing hitam yang bawa keberuntungan? Terus, berjalanlah mundur: kenapa si kucing hitam bisa bawa keberuntungan? Kembangkan lagi: kepada siapa aja si kucing hitam membawa keberuntungan. So on... So on...
Nggak perlu takut cerita kalian basi! Yang penting adalah kalian belajar untuk menulis. Malah, kalo saran gue, jangan menulis cerita yang terlalu orisinal dalam blog. Soalnya, pencurian dan penyaduran sangat rawan terjadi di dunia maya, kawan... Dan, salah satu kiat terampuh untuk menjadi kreatif adalah dengan merahasiakan ide-ide lo.

Kalo takut cerita kalian dicuri atau disadur, jangan di-publish! Tulis aja di buku, atau ketik di PC (atau laptop, atau notebook, atau netbook, or whatever). Memang, ada kekurangannya. Karena nggak ada yang baca cerita kalian, kalian jadi nggak bisa tahu apa cerita itu udah oke atau belum di mata publik. Kalian bisa kasih lihat ke teman, tapi penilaiannya pasti subyektif. Saran nekat gue, sih, kirim aja ke penerbit! Kemungkinan terburuknya adalah naskah kalian dikembaliin. Kalo itu terjadi, kalian kembali ke titik ini. It can’t be worse! Atau, kalau kalian cuma sekedar butuh second opinion yang obyektif, silakan kirim ke email gue di marsczha@yahoo.com. Tapi, jangan lupa kasitau gue kalo kalian ngirim sesuatu, ya? Soalnya, gue punya kebiasaan buruk membuang segala sesuatu yang sekilas nggak terlihat penting.

Keep writing, guys... Gue akan update writing 101 dengan topik berikutnya begitu menemukan kesempatan di tengah waktu luang gue. Hoho...

Kamis, 08 Oktober 2009

Writing 101: Knowing What to Write

Writing 101 berikutnya akan membahas topik-topik untuk ditulis. Masih dengan bahasa dan gaya menulis gue. Tapi, ulasan lengkap harus menunggu laptop tercinta selesai rawat inap. Tampaknya ia sedang kena flu. Tunggu dengan sabar, ya?

Minggu, 27 September 2009

like a zombie

Akhir-akhir ini, gue nggak well.

Padahal udah nggak perlu terbagi antara fiksi dan skripsi. Tapi, dalam banyak hal, gue masih merasa banyak waktu yang hilang begitu saja dalam hidup gue. Entah ke mana.

Dalam banyak hari, gue jadi bangun pagi. Padahal malamnya masih harus berperang dengan insomnia. Bangun pagi juga bukan pagi yang produktif. Kalo dipikir-pikir, yang gue kerjain cuma minum susu, ngompres luka, makan pagi, minum obat terus mandi. Tahu-tahu udah siang.

Selera makan juga memudar. Nggak gampang kenyang, tapi juga nggak lapar. Hmm... Rasanya hidup nggak berarti.

Rabu, 26 Agustus 2009

Writing 101: How To Be A Writer

Hi there!

Sejak TDLC diterbitkan, banyak teman lama yang mengirimi gue email dan ngajakin chat kalo gue lagi online. Bahkan, ada yang SMS. Heran juga! Ternyata banyak yang tahu nomer HP gue. Hehehe... Email, chat, dan SMS yang berdatangan, tentunya, mengucapkan selamat. Banyak juga yang minta dikirimin gratisan. Tapi, yang menarik, ada beberapa yang malah curhat.

Gue sampai sempat menyesal. Gue kurang peka terhadap keinginan dan cita-cita teman-teman gue. Baru sekarang, setelah bertahun-tahun temenan, gue tahu ada beberapa temen yang pengen jadi penulis juga. Email, chat, dan SMS dari mereka, selain ucapan selamat, juga berisi pertanyaan-pertanyaan soal jadi penulis. Mengulang-ulang hal yang sama, akhirnya, membuat gue memutuskan untuk menulis blog ini.

Writing 101: How To Be A Writer

Gimana sih caranya jadi penulis?

Begitulah pertanyaan yang paling sering ditanyakan kepada gue. Gue menjawab dengan jujur: Ya, menulis. Yang gue heran, mereka semua tertawa.

Kalau mau jadi penulis, ya harus menulis, kan?

Menurut gue, salah satu faktor penting yang membantu gue sampai bisa jadi penulis adalah tugas-tugas mengarang semasa SD dan SMP. Dulu, guru-guru bahasa selalu ngasih tugas mengarang setiap habis liburan. “Buatlah karangan tentang liburan kalian kemarin!” katanya. Gue benci banget tugas itu. Soalnya, ortu gue jarang ngajakin jalan-jalan. Kalau liburan, paling gue nginep di rumah kakek-nenek gue: bangun siang dan main seharian. Sama sekali bukan liburan yang menarik untuk dijadikan bahan tulisan. Karena gue orangnya nggak mau kalah, gue merasa tertantang untuk membuat bahan yang nggak menarik itu, setidaknya jadi tulisan yang enak dibaca. Di situlah, gue mulai belajar.

Waktu SD, gue juga menulis buku harian setiap hari. Isinya jangan ditanya. Hampir setiap lembarnya berisi kalimat-kalimat norak seperti “Hari ini, dia duduk di sebelahku” atau “Udah 2 hari dia nggak masuk sekolah. Kenapa, ya?” Bikin merinding. Tapi, gue heran melihat gaya tulisan gue di waktu SD sudah jauh lebih baik daripada gaya tulisan adik bungsu gue.

Adik bungsu gue sekarang kelas 2 SMP, tapi tata bahasanya berantakan. Dia belum bisa meletakkan titik dan koma dengan benar. Dia juga belum bisa membedakan mana yang awalan dan mana yang kata sambung. Usut punya usut, adik gue nggak pernah dapet tugas mengarang dari sekolah. Betapa memprihatinkan pendidikan pada masa ini, ya?

Well, practice makes perfect.

Cara lain yang juga penting untuk melatih kemampuan menulis adalah banyak-banyak membaca. Gue sendiri memang hobi banget membaca. Komik, novel, buku-buku psikologi, bahkan kamus dan ensiklopedia pun gue baca. Gue jarang baca koran karena halamannya lebar dan susah dipegang.

Membaca itu penting karena bisa menambah pengetahuan. Menurut gue, pengetahuan itu penting untuk jadi penulis. Misalnya, lo mau menulis fiksi romantis tentang seorang pemain basket. Ya, lo harus tahu hal-hal mendasar tentang basket. Jumlah pemainnya, ukuran lapangannya, peraturan-peraturan dasarnya. Kalau gue baca novel-novel lain, hal-hal sepele kayak gini biasanya jarang ditulis, terutama kalau si penulis pakai first person point of view. Tapi, gue prefer limited third person point of view dan hal-hal kecil kayak gini bisa membantu banyak untuk membangun suasana. Trust me!

Selain menambah pengetahuan sepele, apa yang lo baca juga bisa jadi contoh yang bagus untuk menulis. Gaya bahasa, misalnya. Saran gue, sih, bacalah buku yang buanyaaaak! Bukan dari penulis favorit lo aja, tapi juga penulis-penulis yang namanya sama sekali nggak lo kenal. Lo akan kaget menemukan begitu banyak hal yang bisa lo pelajari dari buku-buku yang ditulis orang lain.

So many things to say, so little time... Tunggu Writing 101 berikutnya, ya?

Kamis, 20 Agustus 2009

been lazy...

wah, udah lama blogging...

tapi hari ini nggak sempat...

besok, deh, ya?