Jumat, 11 Desember 2009

Resolusi

Hampir minggu ketiga di bulan terakhir tahun 2009. Orang-orang mulai membahas soal resolusi.

To be honest, gue nggak pernah membuat resolusi di awal tahun. Gue membuat resolusi pada hari ulang tahun gue. Di setiap akhir april.

Heart Tree

I think heart is a plant.

Every time I fall in love, a branch grows. Every time I learn something new about the man I fall in love with, a leaf grows or maybe a flower.

Every time I fail in love, that particular branch stops growing. It might even be dead. But, my heart will stay alive.

Writing 102: Stay Focus!

Ah! Sudah lama membolos, akhirnya gue menulis lagi seri writing ini.

So? Gimana perkembangan latihan menulisnya?

Kali ini, gue masih akan menulis tentang topik. Setelah menemukan topik yang memuaskan dan mulai menulis, masalah yang biasanya mengikuti adalah kesulitan untuk tetap berada di jalur utama. Sangat besar kemungkinannya, hanya gue yang mengalami ini sebagai akibat dari sifat-sifat dasar yang pembosan dan mudah teralihkan. Tapi, untuk lo yang mungkin mengalami hal yang sama, gue akan memberikan tips-tips yang sering gue coba.

Pertama, buatlah kerangka karangan. Waktu sekolah, gue benci banget bikin kerangka karangan. Kerangka karangan bikin gue merasa terpenjara dalam batasan-batasan yang gue buat sendiri. Tapi, itu dulu. Sekarang, gue malah merasa sangat terbantu oleh si kerangka karangan.

Kuncinya adalah jangan membuat kerangka karangan yang terlalu mendetil. Buatlah yang singkat! Kerangka karangan gue biasanya hanya memuat satu-dua kalimat per bab. Ini akan membebaskan imajinasi lo tanpa membuatnya melenceng terlalu jauh. Melenceng dikit aja sih nggak pa-pa. Kalo naskah lo diterima penerbit, editor akan sangat membantu untuk meluruskan.

Berikut ini adalah kerangka karangan gue untuk TDLC:
1.Ibu koma.
2.Widya akan melakuksn apapun untuk membuat ibunya sadar.
3.Ibunya meninggal.
4.Kesepian dan putus asa, Widya mengambil keputusan-keputusan yang disesalinya kemudian dan berteman dengan orang yang salah.
5.Ayah menganggap Widya butuh teman bicara, tapi tidak mau putrinya salah memilih teman lagi. Ia menjodohkan Widya dengan putra rekan kerjanya.
6.Widya akhirnya pasrah menghadapi jalan hidup yang dia hadapi. Ia sudah letih membuat rencana-rencana. Toh, akhirnya semua rencananya berantakan.
Dan seterusnya...

Biasanya, kehilangan fokus juga terjadi karena kita lupa mau nulis apa. Yah, ide memang bisa muncul di mana aja—ketika kita lagi nongkrong di WC, duduk ngantuk dalam bis kota, atau lagi ngelamun sambil dengerin dosen ngajar di kelas—dan waktu kita siap untuk nulis lagi, ternyata kit udah lupa ide yang sempet terbersit itu. Damn! I hate that! Akhirnya, kita jadi nulis sesuatu yang sama sekali beda, yang terus membuat kita melenceng dari apa yang awalnya kita rencanain.

Solusi gue untuk masalah ini sebenernya guampaang buangeet. Bawalah notebook!

Maksud gue bukan laptop atau sejenisnya, tapi notebook beneran. Buku tulis. Nggak usah gede-gede. Punya gue ukurannya cuma A6 dan bisa dimasukin ke tempat pensil. Mungkin terdengar kuno. Hari gini, jaman orang-orang bawa laptop, masa gue bawa buku tulis? Tapi buku tulis ini kelak akan jadi harta berharga lo ketika lo udah memulai langkah untuk jadi penulis. Lo akan menulisi buku ini dengan berbagai macam ide yang tiba-tiba muncul, kapanpun, dimanapun, apapun itu.

Bayangin aja kalo lo lagi di bis kota, ngelamun sambil ngeliatin orang di pinggir jalan, terus tiba-tiba dapet ide. Kalopun lo bawa laptop, it will be hard and risky to open it, right? Buku tulis sangat praktis. Lo bisa langsung nulis apapun yang terlintas di kepala lo. Kalopun ternyata nggak relevan dan nggak bisa dipake dalam cerita yang lagi lo tulis—trust me!—lo nggak akan pernah lupa sama ide itu. Suatu ketika lo butuh, lo tinggal buka buku tulis kecil lo lagi dan ide itu masih akan ada di sana, menunggu saat-saat yang tepat untuk membantu lo jadi penulis terkenal.

Sudah semakin gemas untuk jadi penulis? Kalo lo mau skip dan langsung kirim naskah ke penerbit, silakan, lho! Gue akan tetap menulis langkah demi langkah di seri writing ini.

Sabtu, 05 Desember 2009

Freaky Friday

I was watching Spongebob Squarepants with my baby sister. We're eating batagor Burangrang while watching. It was a nice afternoon. Then,I heard it. Scratches at our ceilings. I turned down the volume. It sounds like someone scratched our ceilings. Someone. It's to big to be cat's scratches, let alone rat's. I turned off the TV and it stopped.

It was night already. The sky was dark and the wind blew coldly. I told my baby sister that I'm going to iron our clothes. I went to the walking closet and opened the door. That is when I heard another scratches. Those scratches came from outside the window which is facing our backyard. The scratches stopped right after I turned on the light.

I turned the light back off and closed the door, decided that I'll iron the clothes the next day, after the sun is up.

I called my dog, Perro, and told her to go to the backyard for there might be rats. But, she came back very soon and rolled up in front of my door. It was enough to inform me that there was nothing in the backyard. And I got scared.

Kamis, 03 Desember 2009

Couldn't be worse

Hari selasa lalu, tanggal 1 Desember 2009, gue dipanggil untuk interview kerja di sebuah perusahaan sales & marketing farmasi asal Jepang.
I was the first among others. Waktu gue masuk, gue dihadapkan pada dua orang yang memperkenalkan diri sebagai HR manager dan direktur perusahaan. Gue kaget, tentunya... Interview awal langsung ketemu direktur?
Terus setelah sekitar setengah jam wawancara, si direktur pergi. Gue udah "alhamdulillah" dalam hati. Ternyata dia masuk lagi sama orang lain. Si orang lain ini menyalami gue dan bilang "Nice to meet you."
Terus si HR manager dengan santainya minta gue melanjutkan menjawab dengan bahasa Inggris. Cantik!

Jumat, 13 November 2009

My love for Kelly...


Menulis mengingatkan gue pada Kelly Purwanto, he whose name is written inside my first published novel. Gue harus mengaku bahwa rasa bersalah atas pengkhianatan gue pada Garuda Flexi Bandung untuk beralih ke Pelita Jaya Esia menuntun gue menulis blog ini.

Gue bukan penggemar basket. Buat gue, bahkan, olahraga hanya menarik kalau gue duduk di bangku penonton. Itupun, gue tetep nggak suka basket. Not until I saw him. Kelly Purwanto membuat gue jatuh cinta pada basket.

Semua berawal di Sabtu sore yang membosankan. Nggak ada acara bagus di tivi. Adek gue, yang penggemar basket, akhirnya ngajak nonton IBL. Di tivi, tentunya. Gue mempersiapkan diri untuk menjadi bosan dan jatuh tertidur.

Tapi gue nggak butuh waktu lama untuk berubah pikiran. Satu sosok di lapangan membuat mata gue terpaku. Dia begitu berbeda. Dibandingkan dengan yang lain, dia begitu kecil dan pendek, dan hitam. Tapi, di waktu bersamaan, dia begitu menyita perhatian gue. Dia bergerak bagai kilat. One moment here, tau-tau udah di ujung lain lapangan.

And, of course, I googled him. Dan ternyata dia hebat.

Kelly Purwanto bukan hanya membuat gue jatuh cinta pada basket.
Kelly Purwanto menginspirasi gue dalam banyak hal.
Kelly Purwanto membuat mata gue terbuka waktu kantuk melanda di saat-saat yang nggak tepat.

Maka, para penggemar Garuda Flexy Bandung, maafkanlah pengkhianatan gue... Kesetiaan gue di dunia basket sebenar-benarnya hanyalah untuk Kelly...

Selasa, 10 November 2009

Writing 102: What To Write?

Hello!

Sudah banyak membaca dan banyak menulis? Don’t stop!
Setelah ngaku “Gue juga pengen jadi penulis,” banyak yang bertanya, “Paling oke, nulis apa, ya?” Well, menurut gue, you can write about everything.

Kalo untuk latihan, gue, sih, menyarankan: menulislah dari hal-hal kecil. Update status, misalnya. Kalau punya BB, handphone dengan GPRS, atau akses internet di rumah, berarti lo punya wadah untuk banyak-banyak latihan. Gunakan! Usahakan jangan menulis status yang standar. Tapi, coba dengan bahasa yang menunjang karir menulis lo. Namanya juga latihan.

Kalo mau lebih banyak latihan, tulislah blog! Kan, gratis. Jadi, nggak akan merugikan secara finansial. Kalo nggak mau nulis tentang keseharian, tulislah tentang hal-hal yang menarik buat kalian. Atau, tentang hal-hal yang lagi banyak diomongin orang. Tapi, kalo kalian bercita-cita jadi penulis fiksi, tentunya, akan jauh lebih baik kalo kalian menulis cerita fiksi.

Cerita fiksi nggak harus panjang dan bertele-tele. Cerita pendek tentang seorang cewek yang kelaparan di tengah malam, kehabisan LPG ketika berencana bikin mi instan, baru ingat kalo nggak punya uang cash ketika sudah siap dial 14045, dan akhirnya harus puas dengan dua lembar roti tawar juga bisa dikategorikan cerita fiksi, lho! Apapun, asalkan nggak terjadi dalam kehidupan nyata si penulis, adalah fiksi.
Berdasarkan pengalaman, berbagai hal bisa jadi ide yang bagus untuk ditulis. Yang lebih penting peranannya adalah pengembangan cerita dari si penulis. Misalnya kalian melihat ada kucing hitam di pinggir jalan, mengingatkan pada rumor bahwa kucing hitam bawa sial. Kembangkanlah jadi: gimana kalau ada kucing hitam yang bawa keberuntungan? Terus, berjalanlah mundur: kenapa si kucing hitam bisa bawa keberuntungan? Kembangkan lagi: kepada siapa aja si kucing hitam membawa keberuntungan. So on... So on...
Nggak perlu takut cerita kalian basi! Yang penting adalah kalian belajar untuk menulis. Malah, kalo saran gue, jangan menulis cerita yang terlalu orisinal dalam blog. Soalnya, pencurian dan penyaduran sangat rawan terjadi di dunia maya, kawan... Dan, salah satu kiat terampuh untuk menjadi kreatif adalah dengan merahasiakan ide-ide lo.

Kalo takut cerita kalian dicuri atau disadur, jangan di-publish! Tulis aja di buku, atau ketik di PC (atau laptop, atau notebook, atau netbook, or whatever). Memang, ada kekurangannya. Karena nggak ada yang baca cerita kalian, kalian jadi nggak bisa tahu apa cerita itu udah oke atau belum di mata publik. Kalian bisa kasih lihat ke teman, tapi penilaiannya pasti subyektif. Saran nekat gue, sih, kirim aja ke penerbit! Kemungkinan terburuknya adalah naskah kalian dikembaliin. Kalo itu terjadi, kalian kembali ke titik ini. It can’t be worse! Atau, kalau kalian cuma sekedar butuh second opinion yang obyektif, silakan kirim ke email gue di marsczha@yahoo.com. Tapi, jangan lupa kasitau gue kalo kalian ngirim sesuatu, ya? Soalnya, gue punya kebiasaan buruk membuang segala sesuatu yang sekilas nggak terlihat penting.

Keep writing, guys... Gue akan update seri writing ini dengan topik berikutnya begitu menemukan kesempatan di tengah waktu luang gue. Hoho...