Sabtu, 20 Februari 2010

Happy Life!

Hari ini, sepupu gue~yg juga seorang penulis~lg nujuh bulanan.
Dia adalah salah satu dari 2 sepupu terdekat gue. Meskipun gue lebih deket sama adeknya, gue~bisa dibilang~ngefans sama dia.
Singkat cerita, dari pengalaman hidupnya, gue belajar bahwa Tuhan selalu punya rencana yang lebih indah daripada rencana kita. Rumit, mungkin. Tapi pasti lebih baik.

To my lovely cousin, Mba Pu..
I wish you a happy life from now on.

Jumat, 19 Februari 2010

Unfortunately in love with living-unemployed

Sudah lebih dari setengah tahun gue jadi sarjana, tapi belum juga punya pekerjaan. *menghela napas* Bukannya nggak mencoba, tapi gue selalu gagal di tahap wawancara. My mom (yang selalu mengaitkan segalanya dengan jumlah lemak di badan gue) said that gue pasti berhasil kalau kurus. Sementara gue berpikir bahwa... Mm... *angkat bahu* Sebenarnya, gue bingung kenapa gue selalu gagal di tahap wawancara.

Singkat cerita, sampai sekarang gue masih pengangguran. Tentu saja, gue masih menulis cerita-cerita fiksi. Tapi, pengalaman (pribadi dan orang lain)membuktikan bahwa proses dari ide sampai jadi buku bisa makan waktu setahun. Dan, hanya benar-benar menghasilkan uang selama setahun juga. In the real world--terutama di negara kita yang belum bisa memberikan penghargaan maksimal kepada dunia cerita--kenyataannya menulis nggak bisa dikategorikan sebagai pekerjaan. Nggak mungkin ada orang yang sanggup hidup HANYA dengan menulis. You should do something else too.

Menjadi pengangguran ditambah dengan pulangnya asisten rumah tangga (yang selanjutnya akan disingkat menjadi a.r.t) gue untuk selamanya ke rumah orangtuanya yang dibangun di atas gunung (beneran! gue udah pernah ke sana) membuat gue punya kewajiban tak tertulis untuk menggantikan tugasnya. Sebenarnya, mungkin lebih tepat kalau dibilang gue mengambil alih kembali tugas-tugas nyokap yang selama ini dikerjakan oleh a.r.t itu.

You know, selama beberapa tahun terakhir, gue mengurus diri sendiri: nyuci baju, setrika, masak, dll, untuk diri sendiri. Termasuk nyapu dan ngepel kamar sendiri. Jadi, ketika gue harus nyuci baju semua orang yang tinggal serumah sama gue, dan masak buat adek2 gue, gue bisa melakukan semua itu dengan baik. No problemo. Bahkan, gue menikmatinya.
Gue suka dengan perasaan dibutuhkan yang muncul ketika adek gue dengan nada bossy bilang dia pengen bawa bekal besok pagi. FYI, itu berarti gue harus begadang supaya nggak kesiangan bangun, dan baru beranjak tidur setelah adek gue pake seragam lengkap, siap berangkat ke sekolah.
Gue juga suka berbalas melotot sama adek gue ketika dia marah-marah nyariin celananya yang mau dia pake. "Tadi pagi ada di sini!" katanya sambil nunjuk tiang jemuran. Sementara gue dengan suara sama keras membalas "Well, it's not there anymore!"
Hehehe..
Lama-lama gue jadi makin malas nyari kerjaan kantoran. Bangun pagi, duduk seharian, dan pake baju bagus yang bikin gatel. Belum lagi, sosialisasi dengan obrolan yang isinya gosip melulu. Nggak tau, deh, gimana gue bisa survive di sana.
Anyhow, I'll be there eventually. Tapi, sekarang, gue masih mau menikmati dulu kehidupan pengangguran gue yang super-busy.

Jumat, 11 Desember 2009

Resolusi

Hampir minggu ketiga di bulan terakhir tahun 2009. Orang-orang mulai membahas soal resolusi.

To be honest, gue nggak pernah membuat resolusi di awal tahun. Gue membuat resolusi pada hari ulang tahun gue. Di setiap akhir april.

Heart Tree

I think heart is a plant.

Every time I fall in love, a branch grows. Every time I learn something new about the man I fall in love with, a leaf grows or maybe a flower.

Every time I fail in love, that particular branch stops growing. It might even be dead. But, my heart will stay alive.

Writing 102: Stay Focus!

Ah! Sudah lama membolos, akhirnya gue menulis lagi seri writing ini.

So? Gimana perkembangan latihan menulisnya?

Kali ini, gue masih akan menulis tentang topik. Setelah menemukan topik yang memuaskan dan mulai menulis, masalah yang biasanya mengikuti adalah kesulitan untuk tetap berada di jalur utama. Sangat besar kemungkinannya, hanya gue yang mengalami ini sebagai akibat dari sifat-sifat dasar yang pembosan dan mudah teralihkan. Tapi, untuk lo yang mungkin mengalami hal yang sama, gue akan memberikan tips-tips yang sering gue coba.

Pertama, buatlah kerangka karangan. Waktu sekolah, gue benci banget bikin kerangka karangan. Kerangka karangan bikin gue merasa terpenjara dalam batasan-batasan yang gue buat sendiri. Tapi, itu dulu. Sekarang, gue malah merasa sangat terbantu oleh si kerangka karangan.

Kuncinya adalah jangan membuat kerangka karangan yang terlalu mendetil. Buatlah yang singkat! Kerangka karangan gue biasanya hanya memuat satu-dua kalimat per bab. Ini akan membebaskan imajinasi lo tanpa membuatnya melenceng terlalu jauh. Melenceng dikit aja sih nggak pa-pa. Kalo naskah lo diterima penerbit, editor akan sangat membantu untuk meluruskan.

Berikut ini adalah kerangka karangan gue untuk TDLC:
1.Ibu koma.
2.Widya akan melakuksn apapun untuk membuat ibunya sadar.
3.Ibunya meninggal.
4.Kesepian dan putus asa, Widya mengambil keputusan-keputusan yang disesalinya kemudian dan berteman dengan orang yang salah.
5.Ayah menganggap Widya butuh teman bicara, tapi tidak mau putrinya salah memilih teman lagi. Ia menjodohkan Widya dengan putra rekan kerjanya.
6.Widya akhirnya pasrah menghadapi jalan hidup yang dia hadapi. Ia sudah letih membuat rencana-rencana. Toh, akhirnya semua rencananya berantakan.
Dan seterusnya...

Biasanya, kehilangan fokus juga terjadi karena kita lupa mau nulis apa. Yah, ide memang bisa muncul di mana aja—ketika kita lagi nongkrong di WC, duduk ngantuk dalam bis kota, atau lagi ngelamun sambil dengerin dosen ngajar di kelas—dan waktu kita siap untuk nulis lagi, ternyata kit udah lupa ide yang sempet terbersit itu. Damn! I hate that! Akhirnya, kita jadi nulis sesuatu yang sama sekali beda, yang terus membuat kita melenceng dari apa yang awalnya kita rencanain.

Solusi gue untuk masalah ini sebenernya guampaang buangeet. Bawalah notebook!

Maksud gue bukan laptop atau sejenisnya, tapi notebook beneran. Buku tulis. Nggak usah gede-gede. Punya gue ukurannya cuma A6 dan bisa dimasukin ke tempat pensil. Mungkin terdengar kuno. Hari gini, jaman orang-orang bawa laptop, masa gue bawa buku tulis? Tapi buku tulis ini kelak akan jadi harta berharga lo ketika lo udah memulai langkah untuk jadi penulis. Lo akan menulisi buku ini dengan berbagai macam ide yang tiba-tiba muncul, kapanpun, dimanapun, apapun itu.

Bayangin aja kalo lo lagi di bis kota, ngelamun sambil ngeliatin orang di pinggir jalan, terus tiba-tiba dapet ide. Kalopun lo bawa laptop, it will be hard and risky to open it, right? Buku tulis sangat praktis. Lo bisa langsung nulis apapun yang terlintas di kepala lo. Kalopun ternyata nggak relevan dan nggak bisa dipake dalam cerita yang lagi lo tulis—trust me!—lo nggak akan pernah lupa sama ide itu. Suatu ketika lo butuh, lo tinggal buka buku tulis kecil lo lagi dan ide itu masih akan ada di sana, menunggu saat-saat yang tepat untuk membantu lo jadi penulis terkenal.

Sudah semakin gemas untuk jadi penulis? Kalo lo mau skip dan langsung kirim naskah ke penerbit, silakan, lho! Gue akan tetap menulis langkah demi langkah di seri writing ini.

Sabtu, 05 Desember 2009

Freaky Friday

I was watching Spongebob Squarepants with my baby sister. We're eating batagor Burangrang while watching. It was a nice afternoon. Then,I heard it. Scratches at our ceilings. I turned down the volume. It sounds like someone scratched our ceilings. Someone. It's to big to be cat's scratches, let alone rat's. I turned off the TV and it stopped.

It was night already. The sky was dark and the wind blew coldly. I told my baby sister that I'm going to iron our clothes. I went to the walking closet and opened the door. That is when I heard another scratches. Those scratches came from outside the window which is facing our backyard. The scratches stopped right after I turned on the light.

I turned the light back off and closed the door, decided that I'll iron the clothes the next day, after the sun is up.

I called my dog, Perro, and told her to go to the backyard for there might be rats. But, she came back very soon and rolled up in front of my door. It was enough to inform me that there was nothing in the backyard. And I got scared.

Kamis, 03 Desember 2009

Couldn't be worse

Hari selasa lalu, tanggal 1 Desember 2009, gue dipanggil untuk interview kerja di sebuah perusahaan sales & marketing farmasi asal Jepang.
I was the first among others. Waktu gue masuk, gue dihadapkan pada dua orang yang memperkenalkan diri sebagai HR manager dan direktur perusahaan. Gue kaget, tentunya... Interview awal langsung ketemu direktur?
Terus setelah sekitar setengah jam wawancara, si direktur pergi. Gue udah "alhamdulillah" dalam hati. Ternyata dia masuk lagi sama orang lain. Si orang lain ini menyalami gue dan bilang "Nice to meet you."
Terus si HR manager dengan santainya minta gue melanjutkan menjawab dengan bahasa Inggris. Cantik!